Membaca, Merefleksi, Meresensi

Faris Ahmad Toyyib, Jawa Pos, Resensi

Jalan Buntu Merengkuh Kebenaran

Jalan Buntu Merengkuh Kebenaran - Resensi Faris Ahmad Toyyib

Nihilisme Derrida dan Masalah Metafisika ilustrasi Cantrik Pustaka

Resensi Faris Ahmad Toyyib (Jawa Pos, 30 Agustus 2025)

PARA filsuf, dari Stirner, Nietzsche, Heidegger, hingga Derrida, memiliki uraian masing-masing terkait kebenaran. Tapi, sebetulnya mereka punya kecenderungan yang sama: kebenaran itu tak ada.

Filsafat bermula dari metafisika. Para filsuf paling awal dihantui pertanyaan mendasar tentang apa hakikat segala sesuatu. Ada yang meyakini esensi realitas adalah air, ada yang mengajukan atom, ada yang memercayai api, dan lain sebagainya. Namun, ada kah di antara jawaban tersebut yang benar, yang itu adalah ha kikat sesungguhnya?

Para filsuf sampai hari ini masih berselisih manakah di antara jawaban tersebut yang benar. Andaikan jawaban itu benar-benar ada, mereka tidak punya metode andal untuk menemukannya di antara lautan jawaban yang tersedia. Para filsuf, dalam bentangan buku yang ditulis Martin ini, dari Stirner, Nietzsche, Heidegger, hingga Derrida, memiliki uraian masing-masing terkait ke benaran, meskipun sebetulnya mereka punya kecenderungan yang sama: kebenaran itu tak ada.

Pandangan Empat Filsuf

Bagi Stirner, gagasan apa pun mengenai hakikat sesuatu adalah penindasan. Misalnya, gagasan bahwa manusia ada lah makhluk rasional atau bahwa Tuhan adalah asal dan tujuan hidup. Keduanya memaksa individu bertindak rasional atau beriman agar dianggap manusia, padahal individu (Aku) itu unik dan bebas. ”Aku”, bagi Stirner, tidak boleh didikte bahkan oleh gagasan apa yang baik dan buruk sekali pun. ”Tidak ada yang lebih bagiku selain diriku sendiri.” (hal 28)

Gagasan keakuan Stirner dilanjutkan Nietzsche dengan menyatakan kebenaran tak pernah ada dan kitalah yang menganggit kebenaran itu (hal 38). Kebenaran perlu dibuat, lalu dipercaya, karena kita ingin bertahan hidup. Penilai baik dan buruk, misalnya, yang kita yakini sebagai kebenaran memungkinkan kita memiliki masyarakat tertata. Jika penilaian moral itu tidak ada, masyarakat itu sendiri tak tercipta dan yang tercipta sekadar serigala menerkam serigala lain. Keberlangsungan hidup menjadi begitu rentan.

Heidegger tidak menyatakan kebenaran itu tak ada, tapi cara kita menjelaskannya selama ini–dan mungkin untuk seterusnya–keliru. Selama ini, kebenaran selalu dipikirkan dalam kerangka pembelahan: subjek-objek, atas-bawah, baik-buruk, dst. Bagi Heidegger, kebenaran tidak bisa dibelah-belah seperti ini: (i) bahwa kebenaran adalah dasar dan (ii) segala sesuatu berdasar padanya. Cara memahami semacam ini justru menjejalkan kebenaran dalam kotak tertentu, menirisnya dalam saringan yang telah ada dalam benak, yaitu pembelahan (hal 57).

Karena itu, kebenaran, bagi Heidegger, adalah sesuatu yang tersembunyi dan segala jenis upaya untuk memahaminya akan berakhir sia-sia belaka (hal 59-60). Ia kemudian membedakan dua jenis cara memahami: kalkulatif, yaitu pemahaman yang dicapai melalui pem belahan tadi, dan mediatif, yaitu meninggalkan pembelahan –yang ini bisa berarti mematikan penalaran apa pun– lalu membiarkan kebenaran itu sendiri menyingkapkan dirinya (hal 86-87). Ini membuat Heidegger tampak seperti sufi, yang umumnya mengatakan Tuhan tidak bisa dimengerti melalui akal, tetapi hati yang suci.

Derrida melanjutkan kritik Heidegger tadi. Ia menyatakan hadirnya kebenaran yang utuh tetaplah mustahil selama kita masih berusaha memahaminya melalui bahasa. Bahasa bertumpu pada pembedaan dan pembedaan menghalangi keutuhan makna. Misal, untuk tahu bahwa ini ”kursi”, kita harus mengetahui makna selain kursi sehingga kursi sebenarnya adalah bukan meja, bukan langit, bukan kelinci, dst. Karena itu, dalam ”kursi” itu sendiri terselip ”bukan kursi”, yang memungkinkan kita memahami kursi sekaligus tidak memahaminya.

Itu pulalah yang terjadi ketika kita berusaha memahami kebenaran yang utuh. Selama kita tetap memahaminya dalam bahasa, kebenaran yang utuh selalu tercemari oleh non-kebenaran. Kita berada dalam ketakmenentuan kebenaran (hal 227). Derrida dengan demikian, menurut Martin, membawa kita pada kebuntuan, ketakmungkinan memahami kebenaran, dan menitipkan dua tugas: (i) merumuskan kembali cara memahami kebenaran karena kebenaran yang utuh itu ada dan kita hanya tidak memiliki peranti yang tepat saat ini; (ii) kebenaran yang utuh tidak ada dan kita menyia-nyiakan waktu dengan terus mencarinya (hal 371-375).

Pengantar terhadap Pemikiran Derrida

Meskipun saya menguraikan pemikiran tiap filsuf secara seimbang di atas, bagian pembahasan Stirner, Nietzsche, dan Heidegger sebetulnya tidak seberapa ketimbang Derrida yang hampir menelan 200 dari 375 halaman buku ini. Selain keempat filsuf ini, ada juga satu bab membahas Levinas dan satu bab mengurai hubungan Derrida dengan Deleuze, Ponty, dan Blanchot. Bagi saya, buku ini bisa dilihat, pertama, sejarah kritik terhadap upaya kita (filsafat/metafisika) mencapai kebenaran atau, kedua, pengantar terhadap pemikiran Derrida.

Jika dibandingkan dengan buku Martin lainnya, Materialisme Dialektis: Kajian tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer, saya merasa gaya menulis Martin dalam buku ini masih kalah jernih. Ini mungkin karena buku ini ditulis oleh Martin ketika masih semester lima, yakni 2007, sementara Materialisme terbit kali pertama pada 2012 ketika kemampuan menulisnya telah berkembang lebih banyak. Namun, bukan berarti buku ini adalah tulisan jelimet yang gagal mengartikulasikan gagasannya. Martin mengurai Derrida dengan baik dan begitu detail.

Akhirnya, telah banyak buku berharga tentang Derrida, misal Derrida karya Muhammad Al-Fayyadl, Membongkar Rezim Kepastian karya Haryatmoko, atau Gaya Filsafat Posmo dan Sesudahnya karya A. Setyo Wibowo. Dan Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika segera masuk ke dalam katalog buku-buku berharga itu. ***

.

Judul: Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika

 Penulis: Martin Suryajaya

 Tebal: 397 halaman

 Cetakan: Pertama, Februari 2025

 Penerbit: Cantrik Pustaka

 ISBN: 978-623-139-092-9

.

Faris Ahmad Toyyib. Mahasiswa Magister Filsafat Universitas Gadjah Mada.

.

Jawa Pos menerima kiriman resensi buku. Sertakan biodata singkat, foto terbaru, kartu identitas, nomor rekening, dan NPWP. Resensi dikirim ke buku@jawapos.co.id

Jalan Buntu Merengkuh Kebenaran. Jalan Buntu Merengkuh Kebenaran. Jalan Buntu Merengkuh Kebenaran. Jalan Buntu Merengkuh Kebenaran

Leave a Reply

error: Content is protected !!